Senin, 28 Maret 2022

Materi PAI BP 7 Semester 1



BAB I
Lebih Dekat dengan Allah swt. Yang Sangat Indah Nama-Nya

A. Iman kepada Allah


1) Pengertian iman kepada Allah

Sebelum membahas tentang iman kepada Allah terlebih dahulu kita bahas tentang pengertian iman itu sendiri. Iman menurut bahasa artinya percaya. Sedangkan menurut istilah dapat kita pahami hadits nabi di bawah ini :


أَلْاِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ (رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَالطَّبْرَنِى)

Artinya : “Iman adalah membenarkan dengan hati, mengatakan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”. 

Dari pengertian di atas dapat kita pahami bahwa iman itu tidak cukup hanya dengan percaya melainkan harus mampu mengaplikasikan atau mengamalkan dengan anggota badan terhadap apa yang diimani. Islam mewajibkan pemeluknya untuk beriman sepenuhnya kepada Allah Swt., sebagai pencipta alam semesta yang tunggal, pemilik segala keagungan dan kesempurnaan.

Pengertian iman kepada Allah secara global adalah percaya dan yakin bahwa Allah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan Mahasuci dengan segala sifat kekurangan. Seorang laki-laki yang beriman disebut mukmin dan seorang perempuan yang beriman disebut mukminat. Iman kepada Allah memiliki konsekuensi tunduk dan patuh kepada-Nya. Ketundukan kepada Allah berarti mempercayai apa yang difirmankan-Nya baik yang menyangkut kehidupan, baik dunia nyata maupun dunia gaib.

Iman kepada Allah merupakan pondasi dari seluruh ajaran Islam, artinya tidak berguna seseorang yang beriman kepada malaikat, kitab suci, rasul, hari akhir ataupun qoda’ dan qodar tanpa didasari iman kepada Allah Swt. Maka barang siapa yang ingkar atau tidak beriman kepada Allah sesungguhnya ia termasuk orang yang yang sesat sejauh-jauhnya.

2) Dalil naqli iman kepada Allah

Menjadi orang yang beriman bukan persoalan yang ringan atau mudah. Sebagai manusia yang memiliki pertanggungjawaban kepada Allah Swt., iman menjadi sangat penting. Allah Swt. sendiri yang memerintah-kan kita untuk beriman, sebagaimana firman-Nya:

Artinya :”Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kapada Rasulnya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malai-kat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah tersesat sejauh-jauhnya.(Surah an-Nisa’(4):136)

Keimanan seseorang itu bisa tebal dan bisa tipis, bisa bertambah atau berkurang. Salah satu cara untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah Swt. adalah dengan memahami nama-nama-Nya yang baik dan indah. Kita sering mendengar nama-nama indah itu dengan sebutan al-asmau al-husna.

3) Hikmah beriman kepada Allah

Orang yang beriman tentu merasa dekat dengan Allah Swt. Oleh karena merasa dekat, dia beru-saha taat, menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sungguh bahagia dan beruntung ma-nusia yang bisa seperti ini. Jadi, orang yang beriman akan medapatkan berbagai keuntungan, antara lain sebagai berikut:

a) Dapat menyelamatkan seseorang dari segala sesuatu yang menimpa dirinya karena orang beriman akan ditolong oleh Allah sebagaimana firman Allah Swt., dalam Al-Qur’an surat Al-Mukmin ayat 51.

Artinya : “Sesungguhnya kami menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)”.

b) Hati menjadi tenang dan tidak gelisah sebagaimana firman Allah., dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’du ayat 28.

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

c) Mendatangkan keuntungan. Tanpa dibekali Iman kepada Allah seseorang akan berada dalam kerugian, sebagaimana firma Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Asr ayat 1-3.

Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.

B. Asmaul Husna

1) Pengertian Asmaul Husna


Asmaul Husna menurut bahasa berarti nama-nama yang baik. Sedangkan menurut istilah Asmaul Husna adalah nama-nama yang baik yang dimiliki Allah sebagai bukti keagungan-Nya. Allah Swt., mempunyai nama-nama yang mulia (Asmaul Husna), dan barang siapa yang menghitungnya akan masuk surga sebagaimana Rasulullah Saw., bersabda:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الله تسعة وتسعين اسما مائة الا واحدامن أحصاهادخل الجنة (رواه البخارى ومسلم) 

Artinya : “ Rasulullah Saw. bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama, yaitu seratus kurang satu; barang siapa yang menghitung ia masuk surga.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Asmaul Husna tersebut merupakan sumber peningkatan rohani dan rujukan ideal dalam dalam peningkatan kepribadian manusia. Maka dari itu ummat islam harus memahami minimal mengenal terhadap Asmaul Husna tersebut.


2) Pengelompokan Asmaul Husna


Asmaul Husna sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an dapat dikelompokkan kedalam katagori:

Pertama, berhubungan denga Dzat Allah, seperti: Al-Wahid (Yang Maha Esa), Al-Haqq (Yang Maha Benar), Al-Quddus (Yang Maha Suci), Al-Shamad (Yang segala sesuatu bergantung), Al-Ghani (Yang Maha Kaya), Al-Awwal (Yang Paling Awal), Al-Akhir (Yang Paling Akhir), Al-Hayyu (Yang Maha Hidup), Al-Qoyyum (Yang Berdiri Sendiri).

Kedua, berhubungan dengan makhluk, seperti: Al-Khaliq (Yang Menciptakan), Al-Barri (Yang Menciptakan ruh), Al-Mushawwir (Yang Membuat bentuk) dan Al-Badi’ (Yang menciptakan pertama kali).

Ketiga, berhubungan dengan cinta kasih, seperti: Ar-Rabb (Yang Memelihara), Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih), Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang), Ar-Ra’uf (Yang maha Kasih-Sayang), Al-Wadud (Yang penuh cinta kasih), Al-Latif (Yang Lembut hati), Al-Tawwab (Yang berulang-berulang kasih-sayang-Nya), Al-Halim (yang Maha Penyantun), Al-Halim (Yang Maha Penyantun), Al-‘Afuwwu (Yang Maha Mengampuni), Al-Syakur (yang Melipat Ganjaran), Al-Salam (Yang menciptakan perdamaian), Al-Mukmin (Yang Menganugrahkan Keamana), Al-Barru (Yang Dermawan), Rafi’ Al-Darajat (Yang Meninggalkan Derajat), Ar-Razzaq (Yang Memberi Rezeki), Al-wahhab (Yang Maha Memberi, Al-Wasi’ (Yang melimpah Pemberiannya).

Keempat, berhubungan dengan keagungan Allah, seperti: Al-‘Adzim (Yang Maha Agung), Al-Aziz ( Yang Maha Perkasa), Al-Aliyyu atau Muta’al (Yang Maha Luhur, Al-Qowiyyu (Yang Maha Kuat), Al-Qohhar (Yang maha Unggul), Al-Jabbar (Yang membetulkan dengan segala sesuatu dengan kekuatan yang luar biasa), Al-Mutakkabbir (Yang Memiliki Kebesaran), Al-Kabir (Yang Maha Besar), Al-Karim (Yang Maha Mulia), Al-Hamid (Yang Maha Terpuji), Al-Majid (Yang Maha Jaya), Al-Matin (Yang Maha Kuat), Al-Dzahir (Yang maha Nyata), Dzul Jalali Wal Ikram (Yang mempunyai keagungan dan kemuliyaan).

Kelima, berhubungan dengan ilmu Allah, seperti: Al-‘Alim (Yang Maha Tahu), Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), Al-sami’ (Yang Maha Mendengar), Al-Khabir (Yang Maha Waspada), Al-Bashir (Yang Maha Melihat), Al-Syahid ( Yang Maha Menyaksikan), Ar-Raqib (Yang Maha Mengawasi), Al-Bathin ( Yang Maha Tahu barang yang tersembunyi) dan Al-Muhaimin (Yang menjaga semuanya).

Keenam, berhubungan dengan kekuasaan Allah, seperti: al-Qodir atau Muqtadir (Yang maha Kuasa), Al-Wakil (Yang Mengurus segala sesuatu), Al-Waliyyu (Yang Maha Melindungi), Al-Hafidz (Yang Maha Memelihara), Al-Malik (Yang Maha Memiliki/Raja), Al-Fattah (yang Memutuskan Perkara), Al-Hasib (yang menghitung), Al-Muntaqim (yang Menguasai segala sesuatu).

Ketujuh, berhubungan dengan perbuatan Allah, seperti: Al-Qobidlu (Yang Menyempitkan), Al-Bashithu (Yang Melapangkan), Ar-Rafi’u (Yang Meninggikan), Al-Mu’izzu (yang Memberi kehormatan), Al-Muzhillu (Yang Mendatangkan kehinaan), Al-Mujib (Yang Mengabulkan permintaan), Al-Ba’its (Yang Membangkitkan), Al-Muhshi (Yang Mencatat segala sesuatu), Al-Mudi’ (Yang Memulai), Al-Muid (Yang Mengulangi), Al-Muhyi (Yang Memberi hidup), Al-Mumit (Yang Menyebabkan mati), Malikul Mulk (Yang Memiliki kerajaan), Al-Jami’ (Yang Menghimpun), Al-Mughni (Yang Memperkaya), Al-Mu’thi (Yang Memberi), Al-Mani’ (Yang Menahan), Al-Hadi (Yang Memberi petunjuk), Al-Baqi (Yang Kekal) dan Al-Warits (Yang Mewariskan segala sesuatu).

Disamping Asma Allah yang telah disebutkan di atas ada beberapa Asma Allah yang tidak masuk ke dalam kelompok tersebut, seperti : Al-Nur (Yang Memberi caahaya), Al-Shabur (Yang Maha Sabar), Al-Rasyid (Yangt Menunjukkan), Al-Muqsith (yang tak berat sebelah), Al-Wali (Yang Memerintah), Al-Jalil (Yang Penuh kesabaran), Al-‘Adlu (Yang Adil), Al-Khafidlu (Yang Menghinakan) Al-Wajid (Yang Maujud), Al-Muqoddim (Yang Mendahulukan), Al-Muakhkhir (Yang Mengakhirkan), Al-Dlarr (Yang Mendatangkan kemalangan) dan Al-Nafi’u (Yang Memberi faedah).

3) Makna Asmaul Husna


a)    al-‘Alim (Maha Mengetahui),


Al-‘Alim artinya Maha Mengetahui. Allah Swt. Maha Mengetahui yang tampak atau yang gaib. Pengetahuan Allah Swt. tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Segala aktivitas yang dilakukan oleh akhluk diketahui oleh Allah Swt. bahkan, peristiwa yang akan terjadi pun sudah diketahui oleh Allah Swt. Dengan kata lain, pengetahuan Allah Swt. itu tanpa batas. Luar biasa, bukan? Agar lebih yakin perhatikan firman-Nya berikut ini:


Artinya : “dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)"

b) al- Khabir (Mahateliti)


Al-Khabir artinya Mahateliti. Allah Mahateliti terhadap semua ciptaan-Nya. Allah Swt. menciptakan berjuta-juta makhluk, semuanya berfungsi sesuai dengan apa yang dia kehendaki. Tidak ada satupun ciptaan Allah Swt. yang salah sasaran. Ini menandakan bahwa Allah Mahateliti dalam menciptakan makhluk-Nya.


Artinya : “... dan Allah Maha mengetahui (Maha Teliti) terhadap apa yang kamu kerjakan”.

c) as-Sami’(Maha Mendengar)


As-Sami’ artinya Maha Mendengar. Allah Swt. Maha Mendengar semua suara apapun yang ada di alam semesta ini. Pendengaran Allah Swt. tidak terbatas, tidak ada satu pun suara yang lepas dari pendengaran-Nya, meskipun suara itu sangat pelan. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: 


Artinya “... dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

d) al-Bashir (Maha Melihat).

Al-Bashir artinya Maha Melihat. Allah Maha Melihat segala sesuatu walaupun lembut dan kecil. Allah Swt. melihat apa saja yang ada di langit dan di bumi, bahkan seluruh alam semesta ini dapat dipantau. Hal ini sesuai dengan firman-Nya:


Artinya : “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.


C. Contoh perilaku yang mencerminkan keteladanan dari sifat al-Asma‘u al-Husna: al-‘Alim, al-Khabir, as-Sami’, al-Basir Menunjukkan dalil naqli bukti kemurnian al-Qur’an dengan benar.


1) al-‘Alim (Maha Mengetahui)

Perilaku yang dapat diwujudkan dalam meyakini sifat Allah al-‘Alim adalah kita harus terus-menerus mencari ilmu-ilmunya Allah Swt. dengan cara belajar dan merenungi ciptaan-Nya. Tapi ingat! Penting juga untuk diperhatikan bahwa kita tidak boleh merasa paling pandai. Orang berilmu itu harus tetap rendah hati. Seperti pohon padi, semakin berisi semakin merunduk.

2) al- Khabir (Mahateliti)

Perilaku yang dapat diwujudkan bagi orang yang percaya bahwa Allah Swt. Mahateliti adalah hendaklah kita harus waspada dan teliti betul apa yang kita lakukan atau yang akan kita lakukan. Kita harus teliti dan cermat dalam melaksanakan kegiatan, baik di sekolah, di rumah, maupun di tempat lainnya. Orang yang teliti akan mendapatkan hasil maksimal, dan tidak akan menyesal di kemudian hari.

3) as-Sami’ (Maha Mendengar)

Perilaku yang mencerminkan keimanan kepada Allah Swt. yang memiliki sifat Maha Mendengar adalah kita harus mau mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Terlebih lagi jika yang sedang berbicara adalah guru atau orang tua kita. Lalu, bagaimana sikap kita jika tidak senang terhadap apa yang disampaikannya? Tentu kita harus sampaikan hal itu kepada lawan bicara kita dengan sikap dan bahasa yang santun.

4) al-Bashir (Maha Melihat).

Perilaku yang mencerminkan keyakinan bahwa Allah Maha Melihat adalah hendaklah kita berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini sebagai bahan renungan akan kebesaran Allah Swt. Kita diajarkan untuk pandai dan cermat dalam memandang berbagai persoalan di sekeliling kita. Namun jangan lupa, kita juga harus selalu introspeksi diri untuk melihat kelebihan dan kekurangan kita sendiri agar hidup menjadi lebih terarah. Sungguh hal ini sangat indah untuk diamalkan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Soal Online Penilaian Harian 1 PAI BP Kelas 7

 Kerjakan soal-soal online berikut ini! Memuat…